PSSI Bertekad Ciptakan Wasit Berkualitas
PSSI

IDNEWS.CO.ID – Mantan manajer Timnas wanita Indonesia U-16, Lasmi Indaryani, merasa dipermainkan oleh PSSI. Sebab, ketika mau menerima jabatan menjadi manajer, dia mesti mengeluarkan banyak uang.

Lasmi mau menjadi manajer Timnas wanita U-16 dengan alasan ingin berkontribusi kepada PSSI Pusat. Dia mendapat bisikan dari orang kepercayaannya, Anik Yuni Kartika Sari dengan kontribusi seperti itu, keinginan untuk membawa Persiba Banjarnegara promosi ke Liga 2 bisa lebih mudah.

“Saya megang bola ini tujuan awalnya untuk naik kasta karena keinginan masyarakat. Waktu itu Tika bilang kepada saya, salah satu syarat untuk itu adalah punya kontribusi kepada PSSI pusat yaitu dengan jadi manajer Timnas,” kata Lasmi.

Dari informasi awal yang didapatkan oleh Lasmi, pemusatan latihan Timnas wanita U-16 di Banjarnegara sedianya berlangsung selama dua pekan. Perkiraannya hanya Rp30 jutaan dana yang diperlukan.

“Tapi, setelah waktu berjalan ternyata satu bulan. Tidurnya harus di hotel, makannya harus salmon atau ikan tuna, dan sebagainya. Jadi total (pengeluaran) jadi sekitar hampir Rp260an juta,” jelasnya.

Diakui oleh Lasmi, dana pemusatan latihan Timnas wanita U-16 di Banjarnegara dia peroleh dari ayahnya, Budhi Sarwono yang juga menjabat sebagai bupati di sana. Dia sudah mencoba untuk melakukan pengiritan, tapi akhirnya jebol juga.

“Waktu itu Bu Papat Yunisal membuat rincian bahwa katanya itu murah, biasanya pemusatan latihan Timnas itu Rp1 miliar, tapi di Banjarnegara cuma Rp285 juta. Waktu itu hitungannya begitu. Tapi saya kan, walau itu pakai uang ayah saya, kalau bisa lebih murah kenapa tidak, tapi ternyata tidak. Saya sudah coba irit, tapi tidak bisa,” tutur Lasmi.

Di tengah jalan, Lasmi mengaku sempat mau mundur sebagai manajer Timnas wanita U-16. Namun, Papat memberi janji jika sebagian uang yang dikeluarkannya akan diganti oleh PSSI.

“Saya sempat mau mundur, tapi akhirnya dijanjikan 50 persen uang yang kami keluarkan akan diganti PSSI pusat tapi sampai sekarang sepersen pun saya tidak terima. Saya sempat tanya ke Bu Papat, katanya sedang diproses ke Mas Dony, admin Timnas, saya juga sempat telepon-telepon sama Mas Dony, tapi abis itu tidak bisa dihubungi,” katanya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Papat yang merupakan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI memberi penjelasan yang berbeda. Menurut dia, Lasmi sedari awal sudah tahu jika kebutuhan pemusatan latihan di Banjarnegara akan besar.

Papat pernah langsung ke Banjarnegara untuk melihat penginapan dan juga lapangan yang akan digunakan untuk latihan. Terkait untuk penginapan, Papat meminta perubahan, karena yang disediakan oleh Lasmi merupakan mess untuk tenaga kerja yang tidak layak untuk menampung pemain Timnas wanita U-16.

“Saya lihat stadion, sampai pantulan bola saya cek. Lubang-lubang kecil saya cek, dan akhirnya disepakati oleh bupati langsung dikerjakan. Kedua, mess itu kurang layak karena itu mess tenaga kerja dan saya bilang tidak bisa. Karena (untuk) Timnas harus ada lobby-nya dan harus nyaman,” tutur Papat.

Alasan PSSI untuk menggelar pemusatan latihan di Banjarnegara menurut Papat karena Timnas wanita U-16 akan bermain dalam Kualifikasi Piala Asia U-16 di Kirgizstan. Sehingga butuh lokasi persiapan yang setidaknya juga memiliki kondisi cuaca yang sama.

Papat kemudian mendapatkan telepon dari anggota Exco PSSI lainnya, Johar Lin Eng yang merekomendasikan nama Lasmi untuk menjadi manajer Timnas wanita U-16. Sejak bertemu dengan Lasmi, Papat mengaku sudah berbicara panjang lebar tentang kebutuhan tim.

Papat tak pernah berpikir jika Lasmi ingin menjadi manajer Timnas wanita U-16 tapi dengan imbalan Persibara promosi ke Liga 2 2019. Dia menolak jika dianggap memberi janji akan memuluskan kepentingan Lasmi.

“Saya tahu bersih saja, dan tidak ada saya menjanjikan apapun. Tidak tahu pembicaraan apapun karena saya langsung datang kesana dari jam 10 malam dan jam 11 pagi saya sudah pulang,” ujarnya.

Selain dengan menjadi manajer Timnas wanita U-16, upaya Lasmi untuk membuat Persibara naik kasta adalah memberi suap. Kasus ini sedang masuk dalam penyelidikan Satgas Antimafia Bola Polri, dan sudah menjerat lima orang sebagai tersangka.

Semuanya berawal dari laporan Lasmi yang merasa ditipu oleh Artika dan ayahnya, Priyanto. Sudah banyak dia mengeluarkan uang tapi Persibara nyatanya gagal promosi. Dari penelusuran polisi, diketahui uang juga mengalir kepada Johar yang menjabat sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, lalu anggota Komite Disiplin PSSI, Dwi Irianto, dan Nurul Safarid yang menjadi wasit saat Persibara menang 3-0 atas Persekabpas Pasuruan. (fat)

LEAVE A REPLY