Korban kekerasan kekasih di Lancashire alami kerusakan otak permanen Foto: Metro.co.uk

IDNEWS.CO.ID – Seorang remaja putri, retak sampai pecah beberapa kerangka tengkoraknya dan mengalami kerusakan otak permanen setelah pacarnya memukulinya sampai keadaannya pernah gawat. Dilansir dari laman Metro Kamis (11/7/2019), Megan McPartlin yang berumur 18 tahun itu menyampaikan testimoni tentang kekerasan parah yang dirasakannya dari sang kekasih pada awal tahun ini.

Pemeran bernama Aaron Worthington berumur 23 tahun dan setelah melakukan proses hukum dan sidang akhirnya dijatuhi vonis hukuman penjara bulan lalu.

Penganiayaan pada korban bermula pada saat pesta merayakan tahun baru. Pemeran ada di rumah Meghan dan dalam kondisi mabuk lalu memukuli korban dengan ganasnya. Cukup dengan beberapa tinju, Meghan limbung dan jatuh dan bahkan tak biasa berjalan sampai harus terima pukulan untuk pukulan yang lain.

Korban lalu menderita kerusakan permanen di otaknya, cedera parah pada bagian mata dan wajahnya bahkan sisi tulang yang retak di kepala. Ia harus di operasi sampai lima jam untuk menjaga tengkoraknya yang retak dan ganti sisi yang pecah dengan bahan logam untuk bikin ia dapat hidup.

Bahkan juga setelah tujuh bulan di operasi kata korban, ia masih merasakan sakit di kepalanya dan adanya bahan alternatif logam di kepalanya. Ia lantas dengan berani menceritakan peristiwa nahas saat ia digebuki kekasih sendiri di Chorley, Lancashire, Inggris.

“Ia menendang ane dan ane pernah membalas. Tapi saat ia memukul dengan keras jadi saat itu merasa cuma gelap semua,” kata korban.

Ia mengatakan pernah sadarkan diri tapi pelaku tak memanggil ambulans jadi mengata-ngatainya menegangkan. Gak lama ujarnya terdengar suara tetangganya dan memanggil ambulans lalu selamatkan Megan. Pemeran lantas diamankan polisi setelah keluarga Megan melaporkannya.

Tapi Meghan menyayangkan kalau pelaku cuma diganjar hukuman 27 bulan atau dua tahun 3 bulan penjara oleh Pengadilan Preston Crown. Ia memandang vonis itu mengiris hati Meski sebenarnya korban mengalami kerusakan otak permanen.

“Ane hampir mati dan nyawa ane cuma dihargai dengan hitungan bulan,” tuntut Megan. (ndi)

LEAVE A REPLY