IDNEWS.CO.ID – Bagi media pers punya pemerintah Cina, masalah yang terjadi di Hong Kong yakni masalah reliabilitas di semuanya negeri. “Kami tidak meluluskan siapa lantas melawan prinsip ‘satu negara, dua mode,'” catat Renmin Ribao, media punya organ partai, Senin (18/11/2019).

Maksud para pemrotes yakni “menjerumuskan Hong Kong ke keributan, melumpuhkan pemerintah kota, setelah itu mengambil kekuasaan Wilayah Administratif Privat buat membuat mode politik berdiri sendiri atau semi berdiri sendiri.” Setelah itu prinsip ‘satu negara, dua sistem’ lantas cuma akan jadi gurauan. “Ini berkaitan hari depan Hong Kong, tidak bisa ada area abu-abu, tidak ada ruang untuk kompromi.”

“Penegakan hukum terancam”
Satu hari sebelumnya, editorial Renmin Ribao mengatakan jika bertambahnya keruntuhan di Hong Kong oleh tindakan kriminal telah menyebabkan masyarakat negara hidup dalam ketakutan tiada henti. Keamanan mereka tidak bisa ditanggung, hak-hak basic masyarakat negara seperti kebebasan berekspresi, dibatasi secara besar, dominasi hukum jadi begitu terancam.

Pengamat mengambil pengakuan pemimpin partai yang pula pemimpin negara, Xi Jinping, tentang kondisi di Hong Kong Kamis (14/11/2019) lalu dalam kunjungannya ke Brasil. “Akhiri kekerasan dan keributan dan memulihkan keteraturan, ini dia yang paling menyudutkan di Hong Kong. Kebanyakan penduduk Hong Kong melawan kekerasan, dan mendukung peraturan hukum dan keamanan dan perdamaian.”

“Perbuatan demo memperingatkan kita pada ISIS”
Media Huangqiu Ribao (edisi bahasa Cina dari Global Times) menggambarkan gerakan protes pada tanggal 15 November sebagai terorisme baru dan menulis jika “para pendemo, baik dari pakaian hitam mereka dan penggunaan senjata dalam kota bertambah serupa dengan para militan ISIS. Langkah lalu menyandera dan menekan pemerintah. Kalau tuntutan (mereka) tidak tercukupi, eksekusi para sandera dapat diinginkan (terjadi).”

Artikel itu sesudah itu mengatakan: “Rekam jejak universitas-universitas di Hong Kong dan semuanya kota telah jadi sandera mereka. Banyak pendemo radikal ini memberikan terorisme baru. Mereka menjadikan diri mereka sejenis bom manusia. Mereka serukan aksi untuk ‘terbakar bersama’ dan bikin lancar serangan bunuh diri pada kota modern ini.”

Pada akhirnya, artikel di Huangqiu Ribao menyatakan: Banyak demonstran mengorganisisasikan perlawanan strategis yang tidak kenal batas. Ini secara materiil membedakan mereka dari para demonstran di kebanyakan penduduk Barat yang lain.

“Tindakan polisi resmi dan berdasarkan hukum”
Media massa yang sama menulis dalam komentar sebelumnya dari tanggal 13 November jika “siapa yang lemahkan kompetensi polisi, (bermakna) menolong para pelaku kekerasan.” Media massa ini pun menyatakan “apa sebagian besar masyarakat Hong Kong mengidamkan pemogokan umum di kota? Jawabannya jelas tidak. Kalau sebagian besar masyarakat mendukung, orang tidak butuh bikin jalan untuk kerja dan tidak akan buka toko, jadi mereka tidak butuh bikin barikade.

Melumpuhkan kota bukan merupakan keperluan sebagian besar masyarakat Hong Kong. Akan tetapi biaya kerugian (gara-gara kelumpuhan kota) baik yang tampak ataupun tidak tampak, dijamin oleh semua masyarakat negara.” Tindakan polisi “semuanya dibetulkan, baik secara hukum ataupun akhlak.”

“Kegagalan wartawan barat”
Komentar lain dari koran yang sama dari tanggal 12 November lebih berurusan dengan media barat. “Liputan media barat tentang Hong Kong dalam sekian hari terakhir tidak rasional sekali-kali. Media telah memberikan kesan-kesan yang salah pada publik terkait kondisi Hong Kong, dan itu menyemangati para pelaku kekerasan. Ini tidak ubahnya menyiramkan minyak ke api.”

Menurut pengamat itu, media barat fokus pada penyelewengan wewenang polisi seperti polisi yang tembak seorang pendemo di badan sisi atasnya. Akan tetapi tidak dikatakan jika dia sebelumnya berupaya merampok pistol polisi. Terkecuali itu, media barat dikatakan mengenyampingkan realitas jika banyak faksi tidak bersalah yang di serang dan jika ada bahaya untuk tembakkan bahan peledak di universitas Universitas Cina Hong Kong, jika polisi tidak bebaskan para mahasiswa yang diamankan.

“Media Barat dengan berencana meniadakan atau remehkan insiden mengerikan ini,” tulis penulis.

“Tak ada usul terbuka atas tindakan kekerasan ini, tidak ada prasangka.” Dikatakan, pemberitaaan terkait Hong Kong telah perlihatkan pada kita begitu biasnya media Barat, tidak melihat etos profesional mereka sendiri. Ini dapat dikatakan skandal dalam sejarah wartawan barat.” (ndi)

LEAVE A REPLY