Kondisi kabut asap di wilayah Sumatera Barat.

IDNEWS.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Stasiun Pemantau Atmosfir Global Kototabang merilis, kualitas udara di Sumatera Barat saat ini, sudah terkontaminasi partikulat padat seperti debu dan partikel asap kebakaran. Bahkan, sudah menyentuh level diatas baku mutu.

Analisis citra satelit Himawari oleh BMKG pada selasa 15 Oktober 2019 sore, menunjukkan adanya asap yang menyebar cukup merata ke hampir seluruh wilayah Sumbar. Berdasarkan pola angin, sumber asap terpantau meluas dari wilayah Riau, Jambi dan Sumsel. Hal ini sejalan dengan masih adanya hotspot yang terpantau pada daerah tersebut hingga pagi kemarin.

Akibatnya, empat wilayah antara lain Kabupaten Solok Selatan, Sijunjung, Kota Solok dan Kota Sawahlunto mengambil langkah meliburkan sekolah mulai dari satuan Pendidikan taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama. Kebijakan ini diambil, sebagai langkah antisipasi kasus Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dampak dari kabut asap.

“Saat ini, ada Empat daerah yang meliburkan sekolah. Menyusul rencana libur sekolah, dua Kabupaten lagi yakni, Kabupaten Limapuluh Kota dan Dharmasraya. Namun laporannya belum masuk ke kita,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Daerah BPBD Sumatera Barat, Rumainur, Kamis 17 Oktober 2019.

Menurut Rumainur, kualitas udara di Sumbar memburuk, lantaran adanya kabut asap kiriman dari provinsi tetangga. Terutama dari Sumatera Selatan. Meski demikian, otoritas terkait memastikan langkah antisipasi untuk mengurangi resiko dampak kabut asap seperti tetap dilakukan, seperti meliburkan sekolah dan membagikan masker.

“Sebagai antisipasi, kita sudah distribusikan Empat ribu masker dengan rincian untuk Sijunjung Dua ribu, Sawahlunto Seribu dan Dharmasraya Seribu masker,” ujarnya.

Sebelumnya, menurut Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG/GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis, adapun parameter Aerosol Optical Depth (AOD) sejak kemarin, menunjukkan nilai berada pada p>1, yang berarti kondisi udara secara umum telah terkontaminasi partikulat padat seperti debu dan partikel asap kebakaran.

“Berdasarkan prediksi model, terdapat potensi penurunan kualitas udara ke level sedang secara meluas akan mencapai puncak pada hari ini, mulai pagi hingga malam hari ini. Dampak yang umum terasa adalah penurunan jarak pandang,” kata Wan Dayantolis.

Wan Dayantolis menambahkan, adanya potensi pengurangan jarak pandang hingga kurang dari 5 kilometer, maka pengendara kendaraan bermotor sebaiknya menyalakan lampu utama pada sepeda motor dan lampu senja pada kendaraan roda empat. Jika berada di luar ruangan sebaiknya juga menggunakan masker guna antisipasi gangguan kesehatan.

Pasalnya, keberadaan PM10 dengan konsentrasi pada level sedang biasanya memberi dampak kurang baik pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia serta kelompok yang memang memiliki riwayat gangguan saluran pernafasan. “Pada kelompok tersebut kiranya dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Dijelaskan Wan Dayantolis, berdasarkan analisis citra satelit Himawari oleh BMKG pada selasa sore kemarin sekira pukul 16.00 WIB, menunjukkan adanya asap yang menyebar cukup merata ke hampir seluruh wilayah Sumbar.

Berdasarkan pola angin, sumber asap terpantau meluas dari wilayah Riau, Jambi dan Sumsel. Hal ini sejalan dengan masih adanya hotspot yang terpantau pada daerah tersebut

“Berdasarkan pengukuran PM10 di GAW Kototabang dalam dalam 24 jam terakhir menunjukkan angka pada level sedang yang umumnya terjadi sepanjang hari. Kondisi tidak sehat dengan level di atas baku mutu PM10 yaitu 150 ug/m3, sempat terjadi pada rentang waktu pukul 10-11.00 WIB kemarin. Bahkan, pagi ini, sejak pukul 06.00 WIB, PM10 sdh terpantau berada level di atas baku mutu,” kata Wan Dayantolis.(ndi)

LEAVE A REPLY