Rumah Adat Balla Lompoa, Kelurahan Sungguminasa, Kacamata Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan.

IDNEWS.CO.ID – Model arsitektur hunian nusantara yang terkenal dengan bahan-bahan alaminya selama ini terbukti lebih tahan akan bencana. Ironinya model arsitektur yang demikian justru ditinggalkan masyarakat Indonesia seiring dengan berkembangnya zaman.

Sebagian besar dari masyarakat mengaggap bahwa hunian dengan model arsitektur nusantara sudah kuno dan dinilai ketinggalan zaman. Mereka cenderung mengikuti gaya arsitektur luar negeri yang dianggap lebih maju dan modern.

Padahal, menurut Sayembara Desain Arsitektur Nusantara Pusat Informasi Pariwisata ( Tourism Information Center) 2019, Yori Antar, model arsitektur nusantara lebih sesuai dengan struktur geografis Indonesia yang berada di titik rawan gempa. Ia juga mengungkapkan beberapa keunggulan gaya arsitekur nusantara dibanding arsitekur modern. Berikut beberapa rangkumannya.

Lebih ramah lingkungan
Mayoritas rumah-rumah adat nusantara seringkali menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam, dan cenderung lebih ramah lingkungan. Model arsitektur nusantara, di banyak daerah di Indonesia memiliki struktur bangunan rumah panggung. Menurut Yori, selain lebih tahan gempa, struktur yang demikian juga lebih ramah lingkungan, karena tidak melukai bumi.

Rumah adat Bolon Batak di Pulau Samosir

Memiliki struktur tahan gempa
Struktur bangunan rumah panggung yang berdiri di atas umpak (alas tiang rumah yang biasanya terbuat dari batu) menurut Yori juga cenderung lebih tahan dengan gempa. Selain itu, banyak rumah adat nusantara menggunakan struktur knock down dengan atap serta tiang-tiang yang diikat.

Saat terjadi bencana seperti gempa, rumah ini mungkin tetap akan mengalami guncangan saat bencana. Namun rumah dengan struktur bangunan yang demikian cenderung lebih tahan dengan guncangan dan tidak akan ambruk. Hal ini berbeda dengan rumah berbahan beton yang seringkali ambruk saat bencana.

Dicontoh negara asing
Menurut Yori Antar, arsitekur hunian nusantara dirancang oleh para leluhur dan diajarkan turun-temurun kepada masyarakat. Sayangnya hal ini menurut sebagian orang terkesan kuno dan ketinggalan zaman.

Padahal arsitektur nusantara sendiri sudah merujuk dengan konsep green building yang kini tengah menjadi tren di dunia. Yori juga mengungkapkan bahwa banyak arsitektur dari Jepang yang justru ingin mencontoh konsep arsitekur ala nusantara.

Oleh karena itu, Desain Arsitektur Nusantara Pusat Informasi Pariwisata ( Tourism Information Center) 2019  dipilih menjadi tema Sayembara Desain Arsitektur Nusantara. Para peserta nantinya akan diminta membuat Pusat Informasi Pariwisata untuk 10 destinasi pariwisata prioritas dan satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, Sulawesi Utara dengan total hadiah sebesar Rp1,1 miliar.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya juga mengatakan, desain ini akan dijadikan rujukan desain arsitektur nusantara bagi pemerintah daerah,  masyarakat, dan investor dalam membangun Pusat Informasi Pariwisata atau Tourism Information Center  di 10 destinasi prioritas dan satu KEK Likupang. (tsy)

LEAVE A REPLY