Ilustrasi hipertensi.

IDNEWS.CO.ID – Meski banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, penyakit hipertensi masih sering disalahpahami. Salah satu anggapan yang beredar di masyarakat ialah bahwa seorang yang sering marah-marah lebih berisiko mengidap hipertensi.

Namun, benarkah semua anggapan itu? Ditemui di sekretariat Indonesian Society of Hypertension, dr. Amanda Tiksnadi, Sp.S (K) mengutarakan penjelasannya. 

“Bahwa pada prinsipnya orang yang sedang marah-marah itu tidak bisa dibilang secara gampang saja bahwa yang satu mengalami hipertensi dan yang lain tidak menderita hipertensi,” ungkap Amanda di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Februari 2020.

Amanda menjelaskan, bahwa pada saat marah memang terjadi peningkatan tekanan darah. Namun, ia kembali menggarisbawahi bahwa hipertensi ialah peningkatan tekanan darah yang terjadi secara menetap. 

“Jadi bukan fluktuatif, kalau kita jongkok lalu berdiri saja terjadi perubahan tekanan darah tiba-tiba tapi karena terjadi hanya posisi begitu kita tidak sebut sebagai penderita hipertensi,” kata Amanda.

Amanda membenarkan terjadinya peningkatan tekanan darah pada orang yang sedang marah-marah. Namun, yang terjadi pada orang-orang ini adalah memang sudah punya tekanan darah yang tinggi, atau bisa juga saat marah-marah terjadi peningkatan darah tiba-tiba secara lebih lama.

Seperti diketahui, data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan, sekitar 1,13 miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi.

Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 miliar orang  yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.

LEAVE A REPLY