Presiden Joko Widodo Foto: Nukita.id

IDNEWS.CO.ID – Konstelasi politik di Tanah Air belakangan sedikit gaduh. Pernyataan elite-elite partai politik di media massa seputar Pemilu 2019, berujung debat kusir di antara dua kubu.

Mulai dari soal pidato ‘Tampang Boyolali’ Prabowo, sampai ungkapan ‘Sontoloyo’ yang dilontarkan Joko Widodo.

Sekretaris Jenderal Forum Nasional (Fornas) Bhineka Tunggal Ika, Taufan Hunneman mengatakan, semestinya politik yang dipertontonkan para elite tak demikian.

“Politik harusnya enjoy. Memberikan ruang kebebasan bagi rakyat untuk memilih. Termasuk menjadikan demokrasi sebagai mekanisme efektif dalam membangun pendidikan politik yang bertanggung jawab, ” ujar dia pada wartawan, Sabtu (10/11/2018).

Taufan memaparkan, politik tidak boleh dibangun atas dasar satu permainan yang menghalalkan segala cara. Apalagi sampai harus melakukan black campaign hingga SARA.” Politik harus mencerdaskan bagi masyarakat, ” beber dia.

Menurut Taufan, wajar ketika kemudian Jokowi mengistilahkan ‘Politik Genderuwo’. Kata Taufan, Jokowi sejatinya ingin mengingatkan agar para elite tak mem-branding ketakutan kepada masyarakat. Pasalnya, hal itu merupakan cara-cara yang tidak elok.

“Ini bisa menumbuhkan satu imunitas pesimistik,” lanjut dia.

Taufan melihat bahwa pidato Presiden Jokowi sangat tepat. Bahkan memberikan satu peringatan betapa bahayanya politik dengan membawa satu gagasan.

“Kontestasi yang menebar ketakutan tidak akan mampu memberikan dampak bagi kesejahteraan dan rasa optimisme, ” pungkasnya.(ndi)

LEAVE A REPLY