Ilustrasi manajemen BG Junction Surabaya pasang poster new normal Ritel di pintu masuk mal Ilustrasi manajemen BG Junction Surabaya pasang poster new normal Ritel di pintu masuk mal

IDNEWS.CO.ID –¬†Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah merancang protokol fase new normal di wilayahnya. Dari pembahasan ini di antaranya mengenai protokol di tempat keramaian dan pariwisata yang ada di DIY.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menyebut rencana new normal di DIY nantinya akan membahas aktivitas di pusat perbelanjaan maupun mal. Pemda DIY, lanjut Aji, akan meminta pihak pengelola mall, pusat perbelanjaan maupun destinasi wisata untuk membuat pernyataan akan mematuhi SOP tersebut.

Nantinya jika melanggar dan tak mematuhi protokol new normal, Aji menyebut Pemda DIY akan memberikan sanksi kepada pihak pengelola. Sanksi ini berupa sanksi administratif hingga penutupan sementara pusat keramaian.

“Kepada penyelenggara untuk membuat pernyataan akan menepati SOP bersamaan tadi. Apabila tidak, kita tutup sementara. Kalau destinasi wisata atau mal tutup sementara. Kalau yang melakukan pelanggaran personelnya (pengunjung atau wisatawan) harus ditolak masuk ke mall atau destinasi wisata,” ujar Aji, Jumat, 29 Mei 2020.

Aji menegaskan apabila pihak pengelola tidak mematuhi SOP dan ada penularan virus Corona maka harus bertanggungjawab penuh. Tanggung jawab ini pihak pengelola harus menanggung biaya rapid test massal maupun test PCR atau swab.

“Kalau sampai terjadi pelanggaran protokol kesehatan itu lalu diperlukan untuk rapid test atau PCR itu menjadi tanggung jawab pengelola,” jelas Aji.

Sementara itu, bagi pengunjung jika tidak memakai masker dan menaati protokol new normal maka pihak petugas pengelola harus menolak pengunjung itu. Pengunjung yang tidak patuh, lanjut Aji, tak boleh masuk atau disuruh pulang.

Aji menambahkan untuk protokol di mal maupun pusat perbelanjaan akan diatur oleh Disperindag Pemda DIY. Aji menuturkan nantinya SOP new normal di mal maupun pusat perbelanjaan akan mengakomodir karakter masing-masing mal.

“Mal yang ada di Malioboro Mal, mal yang ada di Hartono Mal, Amplaz seterusnya jumlah pengunjung maksimal kan berbeda. SOP-nya juga berbeda,” kata Aji.

Pun, ia menyoroti pengetatan yang akan diawasi sejak dari pintu mal. Pengaturan dengan pembatasan pintu masuk jadi salah satu solusi.

“Misalnya pintu masuknya (pengunjung ke mall) dari mana. Sekarang ini kan kita harus atur pintu masuk agar tidak terlalu banyak. Pintu keluar juga tidak terlalu banyak. Supaya kalau sudah maksimal masuk keluarnya ketahuan jumlahnya,” jelas Aji. (ndi)

LEAVE A REPLY