Ilustrasi raih gelar sarjana

IDNEWS.CO.ID – Berdasar laporan dari Departemen Imigrasi dan Kewarganegaraan Australia, Indonesia jadi diantara satu dari 10 negara penyumbang mahasiswa internasional di Australia.

Dilema Mahasiswa Indonesia di Australia 17.000 mahasiswa Indonesia meneruskan studi di Australia pada tahun 2013. Walau standar gaji tinggi, beberapa menentukan pulang ke Indonesia. Izin tinggal Masyarakat Konsisten di Australia susah untuk didapat

Laporan tahun 2017 ini mencatat kalau sekitar 20 ribu mahasiswa Indonesia terdaftar di lembaga pendidikan di Australia yang rata-rata ialah di New South Wales dan Victoria.

Ada arahan umum yang mengatakan jika dapat kebanyakan dari mahasiswa ini jika sudah lulus mau lantas bertempat di Australia, karena layanan, gaji, dan kehidupan yang lebih baik.

Akan tetapi apa semua demikian?

ABC Indonesia berbicara dengan tiga orang masyarakat Indonesia yang barusan lulus dari universitas di Australia dan ketiganya menentukan arah kehidupan yang tidaklah sama.

Gabriella Astiti yang lulus dari Universitas Deakin dengan gelar Sarjana Seni bidang Film dan Tv tahun 2017 memang tidak memiliki rencana bertempat sewaktu datang di Australia.

Dia memutuskan untuk pulang dan kerja di Indonesia setelah visa Masyarakat Sesaat Australia yang berdurasi dua tahun habis enam bulan .

Videografer terlepas di sebuah perusahaan startup di Cranbourne, Victoria, Australia itu berpikir kalau tinggal di Australia bukan maksud akhirnya.

“Izin tinggal permanen di Australia memang seakan-akan ibarat tiket emas ke arah kehidupan lebih baik, tetapi itu bukan panggilan ane,” kata Asti.

Gabriel Astiti Asti mengatakan kalau Australia seakan-akan tawarkan tiket emas untuk kehidupan yang lebih baik tetapi itu bukan arahnya.

“Yang tentu ane pengen melihat diri ane berjuang di Indonesia dengan alasan yang baik.”

Disamping itu, Adisa Manalu yang memiliki gelar Sarjana Seni (Komunikasi dan Media) Universitas Monash pernah terbujuk dengan peluang tinggal di Australia dengan visa Masyarakat Sesaat.

Akan tetapi, melihat perubahan industri kreatif di Indonesia, tanpa kuatir dia memutuskan untuk meninggalkan Australia.

“Pertamanya cukup pengen mengambil visa Masyarakat Sesaat, tetapi setelah melihat prospek di Indonesia dengan semua jenis startups yang bertumbuh jadi pengen pulang dan kerja disana.”

Adisa sadar kalau akan ada proses penyesuaian yang mesti dia menempuh sewaktu kembali tinggal di kampung halaman.

“Yang menentang pastilah sisi mengatur dirinya ya, karena mesti mulai dari awal beradaptasi dengan lingkungan baru,” kata Adisa.

“Terlebih dengan macetnya Jakarta. Sedangkan di Melbourne sudah terlatih naik transportasi publik yang benar-benar nyaman. Budaya pada tempat kerja juga tentu tidak serupa.”

Bertempat karena ada peluang

Andreas Utomo salah satu mahasiswa Indonesia yang lulus dari Universitas RMIT pada tahun 2018.

Sekarang, dia sedang dalam proses mengelola izin tinggal tetap di Melbourne, Victoria, Australia.

Di saat banyak orangtua murid mau anaknya kerja di Indonesia dan tinggal dekat sama mereka, orangtua Andre mau dia tetap tinggal di Australia. (ach)

LEAVE A REPLY