Rokok elektrik atau vape. Foto: Hello Sehat

IDNEWS.CO.ID – Tren penggunaan vape atau rokok elektronik meningkat dalam beberapa tahun belakangan terutama pada usia remaja. Banyak dari penggunanya yang memilih vape sebagai alternatif untuk berhenti merokok.

Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa banyak dari remaja ternyata tidak paham jumlah nikotin di dalam vape yang bisa membuat mereka ketergantungan.

Dalam sebuah survei baru, banyak remaja mengatakan mereka secara teratur menggunakan e-rokok, tetapi yakin bahwa mereka menggunakan produk bebas nikotin. Padahal, tes urine untuk penanda penggunaan nikotin menunjukkan 40 persen hasil positif penggunaan nikotin

“Banyak peserta kami tidak menyadari kandungan nikotin dari produk rokok elektronik mereka gunakan,” kata tim yang dipimpin oleh Dr Rachel Boykan, seorang peneliti pediatri di Stony Brook University di Stony Brook, New York, AS, dikutip dari Health24, Sabtu  (18/5/2019).

Hal ini berarti banyak anak muda yang kecanduan nikotin dalam waktu lama, termasuk banyak yang percaya bahwa vaping menjadi “tidak berbahaya” dibandingkan dengan rokok tradisional

Patricia Folan yang memimpin Pusat Pengendalian Tembakau di Northwell Health di Great Neck, New York, mengatakan bahwa penelitian lain telah mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama remaja menggunakan rokok elektronik adalah karena mereka menganggapnya lebih rendah bahayanya daripada rokok yang mudah terbakar.

Mereka menggunakannya tanpa pengetahuan penuh tentang kandungan sebenarnya. Dalam banyak kasus, kurangnya kesadaran ini terjadi dengan penggunaan Juul vaping pod yang sebenarnya memiliki konsentrasi nikotin tertinggi hingga saat ini. Produk-produk ini juga menjadi produk vape yang paling banyak digunakan di kalangan remaja.

Padahal, menurut Dr Len Horovitz, seorang spesialis kesehatan paru-paru yang tidak terlibat dalam studi itu, risiko kecanduan yang ditimbulkan sangat jelas. Fakta bahwa banyak pengguna vape bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka menelan nikotin sangatlah menyedihkan.

“Sudah diketahui bahwa rokok elektronik pada akhirnya menghasilkan lebih banyak nikotin karena setiap ‘penarikan’ menghasilkan nikotin. Sedangkan rokok tradisional terbakar di antara isapan dan karenanya menghasilkan nikotin lebih sedikit,” kata Horovitz. (ria)

LEAVE A REPLY