IDNews.co.id – Kegundahan dari ketidakadilannya perlakuan pajak royalti pada beberapa profesi penulis di Indonesia seperti yang dihadapi oleh Tere Liye juga turut dirasakan oleh penulis kenamaan yang lain yakni Dewi Lestari.

Seperti dilansir Viva, mengungkap persepsi umum profesi penulis merupakan miskin serta prihatin. Bahkan juga seringkali penulis dikadali penerbit sampai tidak dapat memercayakan royalti dari bukunya.

Bahkan, Dewi menilai tidak sering seorang penulis ingin menjadikan hal tersebut menjadi profesi utama yang dapat diandalkan untuk dapat hidup berkecukupan. Dan dengan ekonomi, penulis profesi yang menantang.

Lalu, dikala ada masalah seperti Tere Liye yang mengambil keputusan hentikan menerbitkan semua buku tulisannya karena merasa tidak adil pada pajak royalti, Dewi lantas turut merasakan hal senasib.

” Saya dapat pastikan Tere Liye tidak sendiri dalam kegelisahannya. Tiap-tiap ada peluang bicara mewakili penulis, masalah pajak royalti tidak sempat luput saya ungkap, termasuk juga dikala ada peluang sharing langsung pada Presiden Jokowi, ” bebernya.

Menurutnya, peraturan pajak selagi itu rasa-rasanya menggasak penulis dua kali. Telah pendapatan royalti dikenai 15 %, sisanya yang masuk ke pendapatan tahunan dihitung utuh menjadi pendapatan kena pajak.

Hal semacam tersebut, Lanjut Dewi, pastinya sangat berlainan dengan profesi yang lain seperti praktisi kesehatan yang memakai rumus etika sebesar 30 % dari keseluruhan pendapatannya serta bekasnya dikira modal usaha.

Kemudian, dikala itu di ubah jadi rumus etika buat beberapa penulis pada 2017 nyatanya hal tersebut tidak lalu menyelesaikan masalah, sebab Ditjen Pajak menampik hal itu karena cuma bisa dimanfaatkan pada pendapatan non royalti.

Kondisi itu menurut Dewi tidak terlepas dari asumsi kalau penulis memperoleh pendapatan pasif dan penulis tidak keluar modal. Hingga, etika itu cuma dapat diperlukan dapat penulis terbitkan sendiri karyanya.

” Artinya, dikala pajak menggenggam satu buku, ia cuma lihat modal yang keluar dari 90 % segi fisik buku saja, tidak dari kontennya, ” tuturnya.

Untuk itu, Dewi mengusulkan supaya pajak royalti penulis dapat pas arah yakni lewat, pertama apabila royalti tetap dikira penghasilan pasif, jadi perlakukanlah pajaknya seperti pemasukan pasif. Final sesudah penerbit memotong pajak kami, jadi usai urusan.

Dan Kedua, apabila royalti dapat diperhitungkan menjadi pendapatan aktif, jadi berikan pilihan pemakaian norma pada semua pendapatan kami tanpa ada terkecuali.

” Jujur, pilihan pertama lebih menggairahkan buat saya. Pikirkan, apabila beberapa kreator di beri keleluasaan sesuai sama itu, negara bisa betul-betul menghadirkan atmosfer kondusif buat beberapa penemu serta insan kreatif yang pekerjaannya mencipta, termasuk penulis, ” katanya. (ndi)

LEAVE A REPLY