Ilustrasi Teroris. Foto: Kompasiana.com

IDNEWS.CO.ID – Usman Khan berubah menjadi perhatian para penyelidik antiteror karena berperan dalam kelompok Stoke-on-Trent yang terkait dengan jaringan radikal pimpinan Anjem Choudary.

Khan merupakan pelaku serangan intimidasi di London Bridge. Gara-gara penusukan yang dilakukannya, dua orang meninggal dunia dan tiga yang lain banyak luka.

Badan intelijen dalam negeri Inggris, MI5, dan Unit Penanggulangan Terorisme West Midlands sudah pernah memperoleh informasi tentang sembilan lelaki dari London, Cardiff, dan Stoke yang berencana meledakkan gedung London Persediaan Exchange.

Usman Khan disebutkan salah di antara satu dari sembilan orang itu. Akan tetapi pemufakatan jahat itu dinilai diatur secara amatir.

Khan saat itu pun berencana membuat kursus intimidasi di Kashmir, bertema `madrasah` yang secara terminologi bermakna sekolah.

Melalui kursus itu, Khan pingin melatih generasi militan baru Inggris untuk berperang di Kashmir atau bawa keahlian itu ke Inggris.

Unit Penanggulangan Terorisme West Midlands dan MI5 tidak kuatir kalau Khan dan kawan-kawannya memang beresiko, bahkan jika mereka tidak memiliki potensi intimidasi apa-pun.

Kesangsian pun dirasakan Alan Fraser Wilkie, hakim yang pimpin masalah ini, meskipun dia sempat terima surat pengakuan dari Khan yang mengklaim telah mengundurkan diri dari kelompok radikal itu.

Kesangsian yang dirasakan Wilkie pada karakter Khan didasarkan pada beragam pengakuan setelah penangakan dan selama pengawasan.

Hakim lalu menjatuhkan Khan hukuman penjara teristimewa yang dikenal sebagai Penjara untuk Perlindungan Publik (IPP).

Atas hukuman itu, artinya Khan akan dipenjara setidaknya selama delapan tahun. Dia tidak dapat dibebaskan terkecuali ia memberikan keyakinan Dewan Pembebasan kalau ia bukan intimidasi.

Kepolisian dan badan telik sandi Inggris mengklaim terus mengamati para pelaku intimidasi, baik pada waktu pemenjaraan dan setelah pembebasan bersyarat. – Reuters

Sejumlah anggota kelompok radikal yang lain terima hukuman beragam, bergantung level bahaya mereka.

Pada paruh kedua saat hukuman, tingkah laku mereka akan dimonitor selama jalankan kerja sosial di penduduk. Setelahnya, mereka tetap akan dipenjara untuk observasi penambahan.

Kala Khan ajukan banding atas hukumannya, sejumlah hakim senior satu suara kalau ia semestinya diperlakukan dengan cara yang persis seperti teman-teman di jaringan terornya.

Hukuman penjara buat perlindungan publik yang dilakoni Khan belakangan diperpanjang, keputusan yang merepresentasikan level bahayanya. Hukuman itu sesuai dengan tuntutan jaksa.

Punya arti, Khan masih akan menggunakan delapan tahun di penjara. Setelah itu, ia akan secara bebas bersyarat ditengah-tengah saat hukuman.

Khan diskedulkan menggunakan delapan tahun dalam pengawasan ketat. Kalau perilakunya merepresentasikan kemampuan dan kemungkinan yang terus terusan, pengawasan terhadapnya dilanjut selama lima tahun selanjutnya.

Kalau melanggar ketetapan bebas bersyarat, Khan saat itu juga bisa dijebloskan ke penjara.

Belakangan, . Mode baru memaksa pelaku seperti Khan melakoni setidaknya dua pertiga hukuman sebelum pembebasan bersyarat.

Pengadilan Tinggi tidak dapat memaksakan hukuman itu pada Khan karena pelaku cuma bisa terima hukuman yang terdapat di saat kejahatan dilakukan.

Di lain bidang, Khan pun telah meminta untuk masuk dengan program deradikalisasi. Oktober 2012, Khan disebutkan berkirim surat ke Departemen Dalam Negeri untuk menyediakan pendamping baginya.

Pengacara Khan, Vajahat Sharif, mengatakan pada BBC kalau kliennya berkali-kali memintanya untuk mendukung menemukan seseorang.

Sharif menyatakan inginkan ahli ideologi jihad yang benar-benar rinci untuk kerja dengan kliennya karena ia risau kedengkian Khan sudah terburu berakar dalam.

Jadi, meski Khan mungkin telah terima perlindungan deradikalisasi, pengacaranya, berpikir itu tidak cukup.

Kala dibebaskan secara bersyarat, Khan mesti melalui beragam aktivitas harus di penduduk, seperti yang biasanya dipraktekkan pada para pelaku terorisme:

DDP saat ini berubah menjadi sisi penting dari taktik kontra-terorisme Inggris. Program ini menyertakan konseling teristimewa dan intrusi psikologis pada para narapidana terorisme yang meninggalkan penjara.

Lebih dari 100 orang melakoni program DPP selama Oktober 2016 dan September 2018. Sekarang ini telah ada budget untuk menyimpan sampai 230 terpidana terorisme per tahun.

Pola ini bertujuan menanggulangi banyak pembawa yang bikin seseorang kembali menantang penduduk, dari kritis jati diri, masalah harga diri parah sampai keluhan pribadi dan pandangan ideologi ekstremis.

Satu diantaranya teman Khan, yang dipenjara bersamanya pada 2012, merupakan Mohibur Rahman.

Rahman melakoni pelatihan deradikalisasi di penjara, tetapi disana ia pun bertemu dengan para ekstremis lain.

Rahman belakangan dibebaskan tetapi setelah itu dipenjara seumur hidup karena bertindak dalam .

Akhir dari rencana intimidasi itu merupakan kemenangan besar untuk kepolisian Inggris dan MI5, namun juga dua mantan tahanan terorisme lain yang tetap tidak mengubah penilaian mere

Tiap unit penanggulangan terorisme regional di Inggris semestinya mencermati aktivitas bekas narapidana terorisme yang mereka lepaskan.

Sebelum beraksi intimidasi di London Bridge, Khan perlu izin polisi untuk berpergian ke London.

Sabtu kemarin Kepolisian Metropolitan London mengatakan, Khan, sejauh yang mereka tahu, taati semua persyaratan pembebasannya. (ndi)

LEAVE A REPLY