IDNews.co.id – Hak anak menjadi salah satu fokus dalam pembuatan Rencana Aksi Nasional (RAN) Bisnis dan Hak Asasi Manusia (HAM). Ketua Komnas HAM Nur Kholis mengatakan, saat ini masih banyak kasus pelanggaran hak anak yang terjadi di perusahaan-perusahaan, sebagai contoh pelanggaran hak anak yang terjadi di perusahaan sawit.

Menurutnya, masih banyak anak-anak yang ikut bekerja di ladang sawit. Munculnya pekerja anak di ladang sawit itu membuka banyak kemungkinan. Bukan semata karena perusahaan memang mempekerjakan anak-anak. Tetapi ada juga kemungkinan anak-anak tersebut dibawa orang tua mereka karena tidak ada yang mengasuh mereka di rumah.

”Korporasi dan orang tua harus mendirikan tempat belajar dan menyediakan tempat bermain untuk anak-anak. Bukan dibenarkan they have no choice, sehingga harus membawa anak mereka ke tempat bekerja,” katanya kemarin (16/6).

Hal tidak jauh berbeda juga terjadi pada pekerja anak di jermal, penangkapan ikan di tengah laut. Menurut Nur Kholis, kondisi di sana lebih parah. Dan itu harus segera dihentikan.

Sebagai lembaga yang concern pada anak, UNICEF memberikan masukan kepada Komnas HAM untuk juga memerhatikan hak anak. Anak, disadari atau tidak, juga merupakan stakeholder di dunia bisnis. Bukan sekadar isu pekerja anak yang patut digarisbawahi. Lebih dari itu, isu-isu umum seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan juga menjadi isu penting yang berkaitan dengan anak dan bisnis.

UNICEF Indonesia Partnership (CSR/CRBP) Officer Sagita Adesywi mengatakan, banyak sekali kasus di mana bisnis begitu berdampak pada kehidupan anak. Sayangnya, hal tersebut kerap diabaikan. Dia mencontohkan jam kerja orang tua yang tidak ramah anak.

”Perusahaan harusnya bisa memberikan pekerjaan yang layak untuk orang tua. Yang betul-betul memerhatikan jam kerja sehingga orang tua punya waktu interaksi dengan anak,” terang Sagita. ”Pemenuhan hak anak harus jadi pertimbangan untuk dunia usaha,” tambah Sagita.

Dampak bisnis kepada lingkungan juga menjadi salah satu isu penting yang harus jadi perhatian. Menurut Sagita, dalam usia pertumbuhan, baik dampak positif maupun negatif dari bisnis bisa jadi permanen untuk anak-anak. Dia mencontohkan polusi yang ditimbulkan oleh bisnis kepada lingkungan.

”Orang dewasa mungkin bisa tahan dengan paparan polusi. Tapi anak-anak lebih rentan. Itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang mereka. Dampaknya nanti akan sulit diperbaiki,” terang perempuan berambut pendek itu.

”Masa anak-anak adalah masa paling penting. Hak anak sangat penting untuk tercantum dalam RAN Bisnis dan HAM,” tambah dia.

Sejauh ini, lanjut Sagita, sudah banyak perusahaan-perusahaan yang berinisiatif untuk memenuhi hak anak. Salah satunya dengan menghadirkan ruang menyusui di area kantor. Sagita menilai ini menjadi sangat penting.memang tidak ada hubungannya langsung dengan anak. Namun, ruang menyusui menjadi tempat yang bisa digunakan oleh ibu pekerja untuk memerah ASI dan menyimpannya untuk kemudian dibawa pulang dan diberikan kepada sang anak. ”Ini kan dampaknya juga ke anak. Jadi perlu diperhatikan juga,” tuturnya.

Dia menambhakan, beberapa perusahaan juga sudah punya inisiatif untuk membangun sekolah dan memberikan pelatihan kepada guru-gurunya. Beberapa lainnya juga sudah punya sistem atau mekanisme untuk mencegah pekerja anak. ”UNICEF bekerja sama dengan pemerintah dan asosiasi bisnis untuk pemenuhan hak anak di dunia bisnis. Harapannya, akan lebih banyak lagi perusahaan yang tergerak untuk memenuhi hak anak,” terangnya. (ndi)

LEAVE A REPLY