Venom Foto: CNet

IDNews.co.id – PERTENGAHAN tahun lalu, pihak Sony mengumumkan Tom Hardy jadi pemeran Eddie Brock/Venom. Kabar itu disambut antusias. Fans berekspektasi tinggi. Bagaimana tidak, pemeran utamanya adalah aktor kelas A. Hardy juga punya pengalaman berakting jadi villain. Di The Dark Knight Rises (2012), dia memerankan Bane. Tentu masih ingat dengan penutup mulut penuh taring khasnya, kan?

Nah, tahun ini, Hardy kembali ’’bertaring’’. Dia memerankan Eddie Brock, seorang jurnalis. Pertemuan Brock dengan parasit luar angkasa itu dimulai ketika dia bertugas menyelidiki Life Foundation. Lembaga tersebut mengumpulkan tiga dari empat symbiote yang turun ke bumi. CEO lembaga itu, Carlton Drake (Riz Ahmed), terobsesi menyatukan symbiote dengan manusia. Saking ambisiusnya, Drake meleburkan diri dengan symbiote Riot.

Dia juga memelihara Venom, symbiote yang punya kelemahan pada suara. Dalam investigasinya di lab milik Life Foundation, Brock diserang anak buah Drake. Mereka lantas menginfeksi Brock dengan Venom. Walau berhasil mengenyahkan symbiote, dia telanjur menjadi inang Venom.

Meski sama-sama symbiote, Riot dan Venom punya karakter berbeda. Brock memanfaatkan kemampuan supernya dalam bertugas. Sementara itu, Riot, yang lebih sempurna, menguasai Drake. Dia berencana melakukan misi penjelajahan luar angkasa. Drake ingin mendatangkan lagi symbiote ke bumi. Keduanya lantas bentrok.

Pekan ini, review Venom akhirnya boleh dipublikasikan. Tapi, film besutan Ruben Fleischner tersebut dapat respons kurang oke dari kritikus. Sebab, filmnya dinilai gagal memenuhi ekspektasi fans. Venom –yang diharap mampu menyamai Logan, film Marvel rilisan non-Disney– justru gagal sangar. Symbiote tersebut malah lebih mirip Stitch, makhluk (yang sebenarnya) jahat, tetapi justru tampak manis.

Kolumnis Rolling Stone Peter Travers menilai, akting gemilang Tom Hardy dan Riz Ahmed seakan mubazir. ’’Film ini tidak punya tone jelas, terlalu simpel untuk karakter yang punya banyak sisi untuk digali,’’ ungkapnya.

Secara visual, Venom bisa dibilang punya nuansa yang lumayan gelap dan mengerikan. Tapi, karakternya tidak dikisahkan begitu jelas dalam film solonya sendiri. Kecuali pada menit-menit terakhir di mana karakternya menjadi semakin menonjol dan menarik. Karena itu, bisa dikatakan film ini mudah dilupakan.

’’Sampai saat itu, dia hanyalah karakter sekunder Marvel yang bermuka cemberut dan mengeram, dan tak pernah menunjukkan kepada kita kenapa dia harus menjadi headline filmnya sendiri,’’ kata Chris Nashawaty, kolumnis Entertainment Weekly.

Tapi, Venom juga tidak seburuk itu. Film ini masih sangat menghibur dan bisa dinikmati. Terutama selipan dialog antara Brock dan symbiote yang merasuk di tubuhnya. Juga scene antara Brock dan tunangannya, Ann Weying, yang diperankan aktris terbaik Oscar, Michelle Williams.

Bagi penggemar Deadpool, Venom patut ’’dicicipi’’. Meski, humor yang ditawarkan tidak akan sebrutal Deadpool karena Venom memiliki rating PG-13 yang lebih ramah anak.

Sedangkan Deadpool ber-rating R alias restricted. ’’Ajak teman sebanyak yang kamu bisa, pergilah ke bioskop, beli tiket untuk Venom, dan nikmati hidupmu dengan tertawa dan tertawa,’’ tulis Mike Ryan, kolumnis Uproxx. (ria)

LEAVE A REPLY