http://idnews.co.id/wp-content/uploads/2020/01/5e1c8b6daf86e-iran-kimia-alizadeh-satu-satunya-perempuan-peraih-medali-olimpiade-memutuskan-membelot_375_211.jpg

Kimia Alizadeh, satu-satunya perempuan peraih medali Olimpiade untuk Iran, mengaku dirinya telah membelot.

Perempuan berusia 21 tahun itu mengunggah catatan di media sosial berisi alasan mengapa dia memutuskan meninggalkan Iran. Dia menyatakan tidak ingin menjadi bagian “kemunafikan, kebohongan, ketidakadilan, dan sanjungan berlebihan”.

Dia menyebut dirinya sebagai “satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran”.

Alizadeh tidak membeberkan lokasi keberadaannya, walau sejumlah laporan mengatakan dia sedang berlatih di Belanda.

Alizadeh menorehkan sejarah bagi Iran dengan meraih medali perunggu pada Olimpiade Rio, 2016 lalu.

Namun, sebagaimana dia tuturkan pada media sosial, aparat di Iran menggunakan kesuksesannya sebagai alat propaganda.

Pembelotan Alizadeh mengemuka ketika gelombang demonstrasi berlangsung di Iran, yang terjadi setelah Iran menembak jatuh sebuah pesawat maskapai Ukraina pada Rabu (08/01) saat berkonfrontasi dengan Amerika Serikat.

Para pejabat `mempermalukan saya`

“Saya adalah satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran, yang mereka permainkan selama bertahun-tahun,” tulis Alizadeh.

“Saya memakai apapun yang mereka perintahkan dan mengulangi apapun yang mereka perintahkan. Setiap kalimat yang mereka perintahkan, saya ulangi. Tiada satupun dari kami yang berarti buat mereka, kami hanyalah alat,” lanjutnya.

Selain mengeksploitasi kesuksesannya di bidang olahraga untuk tujuan politik, Alizadeh menambahkan, para pejabat juga mempermalukannya dengan komentar-komentar seperti: “Tidak baik bagi perempuan untuk merentangkan kakinya.”

Alizadeh membantah dia telah diundang ke Eropa atau diberikan tawaran yang menggiurkan. Pun dia tidak mengonfirmasi ke negara mana dia pergi.

Warga Iran terkejut ketika kabar mengenai menghilangnya Alizadeh merebak, pekan lalu.

Politisi Iran, Abdolkarim Hosseinzadeh, menuduh “pejabat-pejabat tidak becus” yang membiarkan “sumber daya manusia kabur”.

Pada Kamis (09/01), kantor berita semi-resmi Isna merilis laporan yang menyebut: “Kejutan bagi taekwondo Iran. Kimia Alizadeh telah beremigrasi ke Belanda.”

Kantor berita itu melaporkan bahwa Alizadeh berharap bisa ikut Olimpiade Tokyo 2020, namun tidak mewakili Iran.

Ketika mengumumkan niatnya untuk meninggalkan Iran, atlet tersebut tidak membeberkan rencananya. Namun, dia menegaskan dirinya adalah “anak Iran” di manapun dia berada.

Lihat artikel asli

.fot-bbc {
background-color: #bb1919;
position: relative;
width: 100%;
height: 24px;
}

fotter-bbc

Kimia Alizadeh, satu-satunya perempuan peraih medali Olimpiade untuk Iran, mengaku dirinya telah membelot.

Perempuan berusia 21 tahun itu mengunggah catatan di media sosial berisi alasan mengapa dia memutuskan meninggalkan Iran. Dia menyatakan tidak ingin menjadi bagian “kemunafikan, kebohongan, ketidakadilan, dan sanjungan berlebihan”.

Dia menyebut dirinya sebagai “satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran”.

Alizadeh tidak membeberkan lokasi keberadaannya, walau sejumlah laporan mengatakan dia sedang berlatih di Belanda.

Alizadeh menorehkan sejarah bagi Iran dengan meraih medali perunggu pada Olimpiade Rio, 2016 lalu.

Namun, sebagaimana dia tuturkan pada media sosial, aparat di Iran menggunakan kesuksesannya sebagai alat propaganda.

Pembelotan Alizadeh mengemuka ketika gelombang demonstrasi berlangsung di Iran, yang terjadi setelah Iran menembak jatuh sebuah pesawat maskapai Ukraina pada Rabu (08/01) saat berkonfrontasi dengan Amerika Serikat.

Para pejabat `mempermalukan saya`

“Saya adalah satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran, yang mereka permainkan selama bertahun-tahun,” tulis Alizadeh.

“Saya memakai apapun yang mereka perintahkan dan mengulangi apapun yang mereka perintahkan. Setiap kalimat yang mereka perintahkan, saya ulangi. Tiada satupun dari kami yang berarti buat mereka, kami hanyalah alat,” lanjutnya.

Selain mengeksploitasi kesuksesannya di bidang olahraga untuk tujuan politik, Alizadeh menambahkan, para pejabat juga mempermalukannya dengan komentar-komentar seperti: “Tidak baik bagi perempuan untuk merentangkan kakinya.”

Alizadeh membantah dia telah diundang ke Eropa atau diberikan tawaran yang menggiurkan. Pun dia tidak mengonfirmasi ke negara mana dia pergi.

Warga Iran terkejut ketika kabar mengenai menghilangnya Alizadeh merebak, pekan lalu.

Politisi Iran, Abdolkarim Hosseinzadeh, menuduh “pejabat-pejabat tidak becus” yang membiarkan “sumber daya manusia kabur”.

Pada Kamis (09/01), kantor berita semi-resmi Isna merilis laporan yang menyebut: “Kejutan bagi taekwondo Iran. Kimia Alizadeh telah beremigrasi ke Belanda.”

Kantor berita itu melaporkan bahwa Alizadeh berharap bisa ikut Olimpiade Tokyo 2020, namun tidak mewakili Iran.

Ketika mengumumkan niatnya untuk meninggalkan Iran, atlet tersebut tidak membeberkan rencananya. Namun, dia menegaskan dirinya adalah “anak Iran” di manapun dia berada.

LEAVE A REPLY