Drama Korea Kim So Hyun, Love Alarm, tayang di Netflix.

IDNEWS.CO.ID – Dengan populasi yang menua dengan cepat, tingkat kelahiran yang rendah dan beberapa orang muda yang makin menghindari pernikahan, Korea Selatan ada dalam masalah populasi.

Disaat beberapa negara mengalami pergantian ekonomi, dampak pertukaran bukan sekedar finansial–mereka pun memiliki implikasi populasi yang besar.

Ini banyak sekali terjadi di Korea Selatan dimana, selama tiga generasi terakhir, negara ini telah berevolusi seperti sejumlah negara yang lain karena industrialisasi yang cepat.

Waktu ini, kekayaan Ekonomi Korea Selatan mencapai US$ 1,6 triliun–terbesar keempat di Asia setelah Cina, Jepang dan India.

Sebab Korea Selatan telah bertransformasi, jadi penduduknya juga demikian, dan dengan cepat sekali, menyebabkan negara itu ada dalam paradoks terkait populasi masyarakatnya.

Negara ini sedang mengalami contoh berlebihan dan cepat dari apa yang disebutkan ahli demografi sebagai ‘transisi demografis’, periode populasi membengkak, mengalami penurunan dan akhirnya membuat garis datar, satu soal yang kerapkali terjadi disaat beberapa negara makin kaya.

Buat Korea Selatan, ini bermakna populasi yang besar dan cepat menua dan tingkat perkawinan dan kelahiran yang rendah yang tidak cukup gantikan generasi yang kritis – satu soal yang memusingkan untuk hari depan Korea Selatan.

Keluarga yang berkurang

Korea Selatan memiliki tingkat kesuburan paling rendah di dunia.

Rata-rata wanita Korea Selatan cuma memiliki 1,1 anak, lebih rendah dari negara lain. (Sebaliknya, rata-rata global yaitu sekitar 2,5 beberapa anak).

Angka ini telah mengalami penurunan terus: di antara awal 1950-an dan ini hari, tingkat kesuburan di Korea Selatan turun dari 5,6 berubah menjadi 1,1 anak per wanita. (ndi)

LEAVE A REPLY