Ilustrasi generasi milenial

IDNEWS.CO.ID – Gangguan mental bisa berawal dari stres yang terabaikan. Jika kamu pernah mendengar keluhan dari anggota keluargamu, seperti kurang tidur, banyak pikiran, dan stres, mulai perhatikan apa masalahnya, bagaimana kualitas hidup mereka, dan apakah bisa ditangani segera, karena stres bisa dialami siapa saja.

Memberi tahu bahwa anggota keluarga, orang terdekat atau diri sendiri sedang mengalami gangguan mental kepada ahlinya, masih dianggap tabu dan aib oleh masyarakat Indonesia karena seringkali kita khawatir dan malu jika aib keluarga diketahui orang lain dan dirasa dapat merusak nama baik keluarga.

Selain itu, ada rasa takut akan dijauhi dan dikucilkan. Bisa jadi akan menjadi bahan bully orang sekitar bahkan disebut gila. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Terkait masalah gangguan mental, isu ini menjadi begitu populer beberapa minggu belakangan ini karena film Joker. Tetapi, jauh sebelum populernya isu gangguan mental dari film ini, kisah Arthur Fleck seorang komedian gagal yang diperankan oleh aktor ternama Hollywood Joaquin Phoenix, beberapa tahun silam, dan Marshanda telah menyatakan bahwa dirinya mengidap gangguan mental bipolar disorder.

Mengakui diri mengidap gangguan mental tentulah bukan hal yang mudah. Marshanda perlu waktu untuk menerima kondisi dirinya yang berbeda. Apalagi, saat itu kebanyakan masyarakat Indonesia menanggapinya dengan tidak positif.

Banyak yang beranggapan sosok seperti Marshanda itu tidak waras. Di luar kisah Marshanda, akan banyak kita temukan orang dengan gangguan mental yang tidak menyadari kondisinya, malu mengakui hingga akhirnya justru terabaikan dalam hiruk pikuk kesibukan masyarakat.

Berdasarkan rilis yang diterima VIVA, Senin 4 November 2019, data WHO menyebutkan setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun dengan banyak kasus yang tidak tertangani sejak dini.

Bunuh diri akibat depresi juga menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun. Ini berarti, milenial sangat berisiko mengalami gangguan mental. Padahal usia milenial adalah saat seseorang ingin dan berkesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri dan awal menentukan arah masa depan.

Di sisi lain, pada usia milenial juga terjadi perubahan fisik, emosional, psikologis, finansial, dan lingkungan pergaulan. Perubahan ini adalah waktu transisi bagi mereka untuk menjadi pribadi yang matang tetapi jika terjadi gangguan dan tidak siap maka dapat menggangu mental mereka.

Misalnya saja, saat harus lulus dari sekolah dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi tetapi dihadapkan pada kesulitan finansial, tidak mampu menghadapi persaingan saat mencari pekerjaan, tidak mampu se-eksis teman sebayanya, dan masih banyak masalah lain yang dapat membuat jiwa milenial terguncang kemudian menutup diri.

Untuk itu, pendampingan, perhatian, dan dorongan positif dari orangtua, keluarga, dan orang-orang terdekat sangat penting bagi remaja untuk membantu mereka menyiapkan masa depannya.

LEAVE A REPLY