Ilustrasi obat Remdesivir

IDNEWS.CO.ID – Uji klinis yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini menemukan bahwa Remdesivir tidak berdampak signifikan pada lamanya perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit.

Salah satu obat antivirus, yang pertama digunakan sebagai pengobatan untuk COVID-19, itu diketahui merupakan salah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati Presiden AS Donald Trump.

Hasil uji coba “Solidaritas”, yang mengevaluasi efek dari empat regimen obat yang potensial, termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, kombinasi obat anti-HIV lopinavir / ritonavir dan interferon, pada 11.266 pasien dewasa di lebih dari 30 negara.

Baca juga: Cantiknya Caladium, Dulu Diabaikan Kini Berharga Jutaan

Studi tersebut menemukan rejimen tampaknya memiliki sedikit atau tidak berpengaruh pada kematian 28 hari atau lamanya perawatan di rumah sakit di antara pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, kata WHO pada hari Kamis. Hasil uji coba itu belum ditinjau dan diunggah di server pracetak medRxiv.

Awal bulan ini, data dari penelitian remdesivir oleh Gilead di AS menunjukkan pengobatan tersebut mampu memangkas waktu pemulihan COVID-19 sebanyak lima hari dibandingkan dengan pasien yang mendapat plasebo dalam sebuah percobaan yang melibatkan 1.062 pasien.

“Data yang muncul (WHO) tampak tidak konsisten, dengan bukti yang lebih kuat dari beberapa penelitian acak dan terkontrol yang diterbitkan dalam jurnal peer-review yang memvalidasi manfaat klinis remdesivir,” kata Gilead mengatakan kepada Reuters yang dikutip dari laman Times of India.

Pihaknya menyebut menyayangkan dengan data yang belum ditinjau namun sudah diungkapkan oleh WHO. 

Baca juga: Kulit Berminyak dan Mudah Jerawat? Jangan Gunakan Cleansing Milk

“Kami prihatin bahwa data dari uji coba global label terbuka ini belum menjalani tinjauan ketat yang diperlukan untuk memungkinkan diskusi ilmiah yang konstruktif, terutama mengingat batasan desain uji coba,” tutur Gilead.

Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan pada Rabu bahwa selama penelitian, hydroxychloroquine dan lopinavir / ritonavir dihentikan pada Juni setelah terbukti tidak efektif, tetapi uji coba lain berlanjut di lebih dari 500 rumah sakit dan 30 negara.

“Kami sedang melihat apa yang selanjutnya. Kami melihat anti-tubuh monoklonal, kami melihat imunomodulator dan beberapa obat anti-virus baru yang telah dikembangkan dalam beberapa bulan terakhir,” kata Swaminathan.

Remdesivir sendiri mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan A.S. pada 1 Mei, dan sejak itu telah diizinkan untuk digunakan di beberapa negara.
 

LEAVE A REPLY